Senin, 06 April 2009

Dr. Poltak YP Sibarani

Penebusan Berlaku untuk Semua Orang

Kredo.jpg
“Marilah, baiklah kita berperkara! – firman Tuhan – sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju: sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes. 1:8). Tulisan ini saya awali dengan ajakan untuk memahami dengan cermat apa yang sering disebut sebagai kebobrokan atau kerusakan moral manusia yang dianggap total (total depravity). Kiranya kita tidak menganggap bahwa kerusakan moral manusia akan menghambat kita untuk me-nerima pengampunan dari Tuhan. Sebab, sedalam-dalamnya manusia jatuh dalam dosa ia masih dapat dipulihkan, sebagaimana yang dikisahkan Tuhan Yesus dalam Lukas 15:11-32. Dalam nats ini, kejatuhan anak bungsu ke dalam dosa yang sudah sangat parah diceritakan dengan sangat jelas, sampai-sampai (saya istilahkan) ‘babi lebih berharga dari dia; babi boleh makan, namun dia tidak boleh makan’. Apa yang dialami oleh anak bungsu merupakan gam-baran dari parahnya kejatuhan manusia ke dalam dosa dan akibat yang luar biasa yang ditimbulkan-nya. Namun, ia pun menyadari keberadaannnya seraya berkata: “Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah ber-dosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut-kan anak bapa; jadikanlah aku seba-gai salah seorang upahan bapa” (Luk. 15:17-19). Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ke-tika ia masih jauh, sang bapa telah melihatnya dan sangat bersukacita dengan belas kasihan kepadanya, berlari mendapatkan anaknya lalu merangkul dan mencium dia (Luk. 15:18). Bapa itu pun berkata kepada hamba-hambanya: “Lekasl-
ah bawa ke mari jubah yang ter-baik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan am-billah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria” (Luk. 15:22-24). Meskipun sang kakak sangat tidak setuju dengan perlakuan bapa kepada adiknya, namun si bapa tidak membatalkan peng-ampunannya terhadap anak bungsunya itu. Sang bapa merendah-kan hatinya untuk me-nerima permohonan ampun anaknya.
Dosa merupakan sesuatu yang sangat serius. Karena serius-nya dosa, maka Tuhan Yesus Kristus turun dari sorga, mati di kayu salib (I Yoh. 2:1-2). Kema-tian Kristus sebagai penebusan dosa telah menjadikan dosa seba-gai sesuatu yang tidak perlu ditutup-tutupi apalagi ditakuti. Me-mang dosa adalah se-suatu yang sangat serius, namun sudah ditebus oleh-Nya dengan sangat tuntas.
Ketika duduk di bangku SMP, saya mengikuti pelajaran mate-matika tentang penjumlahan dan pengurangan. Dalam pelajaran itu ada dua tanda yang sangat berpengaruh, yaitu tanda ‘kurang’ (minus) dan tanda ‘tambah’ (plus). Yang pertama disebut negatif (­-) dan yang kedua disebut positif (+). Negatif hanya akan mengurangi dan menghilangkan, sedangkan yang positif akan menambah dan mengangkat. Kedua tanda ini dapat kita gunakan untuk meng-ilustrasikan keberadaan dosa dan penebusannya. Anggaplah dosa sebagai minus dan penebusan Kristus sebagai plus. Bila Anda melakukan dosa dua kali, berarti Anda minus dua (-2). Untuk mene-tralkan minus, anda perlu menam-bahkan plus sebanyak dua (+2). Minus hanya dapat dinetralkan oleh plus. Minus tidak dapat dinetralkan dengan tanda ‘perkalian’ (x2) dan tanda ‘pembagian’ (:2). Kedua tanda terakhir ini tidak menetralkan minus, malahan akan membuatnya menjadi semakin rumit dan tidak ada jalan keluar. Keberadaan dosa umat manusia dapat diatasi dengan sangat mudah dengan cara meng-efektifkan kematian Yesus Kristus untuk menebusnya.
Penebusan Yesus Kristus berlaku untuk semua orang di seluruh dunia. Ia telah mengadakan pene-busan bagi semua orang, bukan hanya bagi sebagian orang atau kelompok tertentu. Semua orang yang mana? Semua orang yang mau mengakui kematian-Nya seba-gai penebusan dosa-dosanya, yang dilanjutkan dengan pengakuan dosa-dosanya. Jadi, pengakuan dosa seharusnya dimulai dengan pengakuan kematian Kristus seba-gai penebusan atas dosa. Penga-kuan akan penebusan Kristus ber-arti pengakuan bahwa Ia adalah Tuhan dan Juruselamat.
Allah tidak pernah memaksa siapa pun untuk percaya kepada-Nya. Namun Ia menyemangatkan semua orang untuk percaya kepada-Nya. Allah tidak memaksa namun memberikan pilihan sekaligus meng-ingatkan manusia akan dampak atau konsekuensi dari setiap pilihan itu. Bila kita mengakui dosa maka kita akan menerima pengampunan, bila kita tidak mengakui dosa maka kita akan tetap di dalam dosa.
Berbahagialah orang yang meng-akui dosanya karena mereka semua akan mendapatkan peng-ampunan. Disebut se-mua karena semua orang adalah orang berdosa. Pernyataan ini bukan ha-nya penting tetapi juga suatu kebenaran berda-sarkan suatu kenyataan. Siapa pun kita, kita adalah orang berdosa. Keberdosaan manusia bukan karena tradisi atau status kelahirannya, tetapi karena perbuatan dan ketidakmauannya mengakui dosa. Saya tidak mau memperde-batkan tentang kebera-daan manusia sebagai orang berdosa dari sudut status kelahiran, namun saya membicarakan keberdosaan manusia dari sudut perbuatan. Bila dikatakan bahwa seseorang berdosa, maka hal itu adalah karena memang dia berbuat dosa. Pandangan ini didasarkan pada pernyataan Alkitab. Dalam Alkitab, Allah tidak pernah menu-duh seseorang sebagai orang berdosa kalau dia tidak berbuat dosa. Semangat dan pemahaman seperti inilah yang perlu kita miliki: “Saya adalah orang berdosa, karena saya berbuat dosa, bukan karena status kelahiran saya.” Apakah anda berani berkata (sambil melihat bayi yang baru misalnya), demikian: “Wah, seorang berdosa telah lahir; manusia berdosa telah bertambah.” Kalau Anda berani, maka saya tidak berani. Bila kita membaca Roma 3:23, ayat ini berbunyi demikian: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Hal pertama yang harus kita catat di situ adalah bahwa kehilangan kemuliaan Allah yang dialami oleh manusia adalah karena mereka telah berbuat dosa. Jadi, kehila-ngan kemuliaan Allah itu bukan sebelum manusia berbuat dosa, melainkan setelah berbuat dosa. Pernah Anda berbuat dosa? Saya pernah; malahan beberapa kali. Mengapa? Bukan karena saya orang berdosa, tetapi karena saya mampu berbuat dosa. Jadi: Saya adalah orang berdosa karena saya telah berbuat dosa, bukan karena saya tidak berbuat dosa. Dosa adalah suatu realitas. Salah satu kebenaran yang tidak dapat disanggah dalam dunia ini, adalah bahwa semua orang karena mereka memang telah berbuat dosa. Dosa bukan masalah status, stigma atau pun simbol, melainkan karena perbuatan.
Seharusnya kita mengikuti apa yang dilakukan Yunus ketika mengakui dosa-dosanya dalam Kitab Yunus 1, bukan apa yang dilakukan oleh Adam, yang tidak mau mengakui dosanya, yang malahan yang melemparkan tang-gung jawabnya kepada istrinya dalam Kitab Kejadian 3. Pengakuan Yunus akan kesalahannya bukan saja mengantarkannya kepada pembenaran dan pemulihan ilahi, tetapi juga menyelamatkan ba-nyak pihak (di kapal yang hampir tenggelam yang ditumpanginya dan di Niniwe sebagai obyek yang harus dinasihatinya). Sebaliknya, penyangkalan yang dilakukan oleh Adam membuat mereka terhu-kum dan membawa dampak ke-pada keturunannya.v
* Penulis adalah Pendiri Sekolah Pengkhotbah Modern (SPM), Ketua STT Lintas Budaya, dan Pendiri Jakarta Breakthrough Community (JBC).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar